KM Bali 1-Kalau kita melihat di hampir seluruh wilayah tambak kabupaten Dompu yang digunakan untuk program uji coba peningkatan produktifitas tambak dengan metode Polikultur ini cukup berhasil”, jelas Ir.Wahiddin kepada Kampung Media saat meninjau langsung keberhasilan program Polikultur bantuan KPDT tersebut di lokasi petani tambak Desa Jambu, Kecamatan Pajo, dan Desa Mbawi Kecamatan Dompu minggu (16/2) kemarin.
Kegiatan peninjauan langsung ini dilakukan untuk kedua kalinya setelah minggu lalu Pihak Dinas Perikanan dan Kelautan mengunjungi keberhasilan petani tambak di Desa Wawonduru, Desa Bara, Desa Mumbu, dan Desa Riwo kecamatan Woja dalam menerapkan metode baru pengelolaan area tambak ini.
Dalam kunjungan  tersebut dirinya bersama Staf Ahli Bupati bidang Pebangunan dan ekonomi  Ir. Syarifuddin seperti biasa memberikan penyuluhan kepada masyarakat petani tambak tentang metode polikultur yang merupakan sebuah metode baru ini.
Polikultur adalah metode budidaya yang menggabungkan antara Ikan Bandeng, udang dan Ruput laut jenis gracelaria untuk hidup bersama dalam satu areal tambak. Gracelaria dalam penerapan metode polikultur ini berfungsi sebagai penghasil oksigen sehingga dapat beranfaat bagi hewan-hewan yang hidup disekitarnya seperti dalam uji coba ini yaitu Bandeng dan Udang.
“Dengan adanya ruput laut yang hidup berdampingan dengan ikan budidaya para petani ini, maka ikan-ikan maupun udang tidak stress akibat kekurangan oksigen sehingga petani pun dapat enebar benih ikan jauh lebih banyak dari sebelumnya karena ketersediaan oksigen sudah tercukupi oleh Gracelaria tersebut”, jelas Wahiddin.
Bahkan menurut H. Arsyad petani tambak yang juga mendapatkan program bantuan langsung Polikultur KPDT ini menuturkan biasanya, ikan bandeng yang ditebarnya baru dapat dipanen setelah 5 hingga 6 bulan. Namun setelah menerapkan metode Polikultur, ukuran bandeng yang budidayakannya sudah dapat dipanen pada umur 4 bulan.
Namun kendala yang tidak dapat dihindari oleh para petani tambak adalah pendeknya umur udang yang dibudidayakannya sehingga pada umur 1 hingga 2 bulan petani terpaksa harus sudah memanen hasil udang tersebut. Apabila para petani terlambat memanen hasil udang tersebut, maka para petani harus rela melihat udang peliharaannya mati berserakan di aeral tambanya. Menurut Wahiddin, hal ini disebabkan oleh adanya Virus yang menyerang udang petani tersebut sehingga tidak mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama sehingga dapat dipanen pada umur yang diharapakan.
“masalah virus yang menyerang udang para petani ini sudah cukup lama dan belum dapat ditemukan solusi pemecahannya. Masalah virus ini muncul juga adalah akibat dari hilangnya kekebalan alami dari udang yang diproduksi dari adanya hutan bakau. Saat ini hutan bakau semakin kurang sehingga virus tersebut berkembangbiak dengan bebas dan merusak udang petani”, jelas Wahiddin.[Ozyra]

Posting Komentar

 
Top